LEVEL UP! : Takut Programming

quote-john-romero-you-might-not-think-that-programmers-are-210555_1

credit: quotes.lifehack.org

PROGRAMMING

Sedari dari zaman sekolah, kedua orangtua sering bilang kalau saya lemah banget di pelajaran bagian eksakta macam matematika, fisika, kimia dan lainnya. Waktu itu saya sih selow aja karena dari SD memang sudah niat kelak nanti pas mahasiswa saya maunya jurusan seni-seni-seni. Jadi waktu itu agak-agak bodo amat kalau nilai ulangannya jelek #uhuk. Nilai ulangan dapet 6 aja itu buat saya sudah prestasi (jangan ditiru ya :”). Dan memang sih belajar mata pelajaran eksak waktu itu terlalu abstrak buat saya terlebih dengan metode pengajaran sekolah-sekolah Indonesia yang ya you-know-lah kayak gimana. Yang penting hafal rumus, bukannya mengerti konsep dibalik itu kenapa rumusnya bisa begini. Huhuw~ Ah tapi intinya, memang saya malas karena tidak ada interest aja pada waktu itu, menurut saya sesuatu yang struktural itu mengekang dan stressful. LEL

TAUNYA MALAH INTEREST KE GAME INDUSTRY

JEDAR. Cups banget yah dengan polosnya dulu saya yakin bisa berhasil di industri game dengan pengetahuan programming 0 besar. Karena punya background DKV, saya dulu berpikir ah sudah cukup bahagia kok kalau nanti menjadi game artist dan hanya menguasai bidang visual. Tapi Tuhan berkata lain, saya malah pelan-pelan digiring untuk punya interest ke bidang game design. Awalnya sih saya dengan songong berstrategi, “ah menjadi game designer yang penting mengasah cara berpikir kreatif dan komunikasi, ga kok ga usah programming” (denial). Sampai pada akhirnya pengalaman di Gameloft menampar saya untuk berhenti berpikir seperti itu.

GAMELOFT : FLASH FOR GAME DESIGNER

Segera setelah saya pindah ke Gameloft Jogja bagian HD, saya mendapati kalau tugas Game Designer disana juga termasuk layouting UI game via Actionscript Flash. MODARO~~~~~~ hari-hari itu benar-benar momen-momen yang sangat stressful, bahkan produser saya yang mantan GD dan malah punya background DKV juga cukup mengerti soal dasar-dasar programming. Terlebih lagi beban karena jadinya beberapa teman-teman programmer saya malah ‘terpaksa’ membantu mengerjakan jobdesk saya, yang seharusnya GD yang bisa membantu meringankan tugas programmer.

bird-action

credit: perpetualvisions.com

Pelan-pelan saya belajar dari basic, terus ambil short quiz dari platform-platform belajar coding seperti misalnya CodeAcademy, pokoknya belajar syntax-syntax yang basic dulu. Setidaknya saya bisa sedikit paham kalau membaca coding maksud logikanya mengarah kemana. Meskipun sampai sekarang pun juga belum jago :’).

APAKAH GAME DESIGNER PERLU PAHAM PROGRAMMING?

Dengan hati berdarah-darah berlatar belakang pecahan kaca jendela, saya mengakui kalau pengetahuan programming itu: SUNGGUH PERLU (huhuw sambil nangis keras). Apalagi saya banyak dengar kalau developer-developer luar negeri disana itu banyak yang all-in-one, programming bisa gambar bisa komunikasi pun bisa. JIPER KAK JIPER. WKWKWKW. Lebih berat lagi kalau memang belum ada interest/belum suka soal programming, jujur meskipun sekarang saya sudah paham kenapa programming itu penting dan prospeknya untuk menunjang profesi game design kedepan, tapi karena pada dasarnya tidak suka, proses belajar bakal lebih lama dibanding yang memang sudah punya dasar logika yang kuat dan interest kesana.

BELAJAR PROGRAMMING KAN LAMA, KAPAN FOKUSNYA?

Betul sekali, banyak kenalan-kenalan sesama developer memang sudah dari sononya mereka mengambil kuliah pemrograman dan tentunya punya pemahaman yang lengkap mengenai programming. Dengan menimbang-nimbang berbagai faktor luar maupun dalam, daripada saya terjebak dalam beban harus master in programming juga, saya menyikapinya dengan mengambil jalan tengah. Banyak sekali masukan-masukan dari teman-teman kalau memang sebaiknya kita fokus pada kelebihan dan hal yang kita suka. Fokus sekarang saya arahkan untuk berada di jalur game designer yang lebih condong dari segi visual, sehingga harus mengoptimalkan metode penyampaian visual yang menarik dan jelas, terutama kalau berkomunikasi dengan programmer. Dan saya juga berterimakasih, banyak juga masukan kalau misalnya memang keadaannya begitu, setidaknya tahu saja sedikit-sedikit soal scripting dan logika dasar pemrograman. Saya tentu saja berniat untuk meneruskan belajar programming sedikit-demi sedikit. Gakpapah deh biar lambat asal berprogress sehingga tidak jadi beban. He-he.

PORSI BELAJAR

Bagaimana pembagian proses belajar saya yang bisa dikatakan harus membagi fokus antara 2 bidang yang berbeda?

  • Weekdays: sehabis pulang kantor, biasanya saya mengusahakan latihan menggambar. Entah serious digital painting, atau sekedar doodle sketsa & latihan anatomi. Untuk sekarang sih lagi jarang serious digital painting, kalau kata mentor gambar saya harus banyak mengulang lagi aspek-aspek basic drawing biar gambarnya lebih mantap
  • 1-2 days: Biasanya saya cuma mengalokasikan sehari-2 hari (tapi masih belum konsisten) untuk coba-coba tutorial kecil-kecilan aja. Kebetulan sekarang sedang fokus di Unity karena saya kerjanya pakai itu, dan ada teman programmer yang baik hati mau mentoring langsung ❤

Kira-kira porsi simpelnya begitu. Tapi tidak lupa belajar juga hal lain. Saya terinspirasi sekali dengan kata-katanya founder Ali Baba, Jack Ma:

After work, is what determines your future! Spend one hour per day doing these 5 things and your life will change forever!

GYLS! Alokasikan waktu di luar rutinitas kerja untuk melakukan macam-macam kegiatan pengembangan diri untuk masa depan yang lebih cemerlang. Wajib banget baca artikelnya disini -> Jack Ma: After work, is what determines your future!  

ENDWORD

Intinya sih, meskipun saya ga suka programming untuk saat ini, tapi kayaknya lebih baik untuk terus berusaha membuka berbagai kemungkinan dan be open-minded sama beragam pengetahuan. Mau sampai kakek-nenek juga jangan menyerah untuk terus belajar, karena kita gak akan tahu kapan kita ketinggalan karena terlalu lama terjebak di comfort zone.

Proses memaksa diri untuk belajar terus itu pasti melelahkan dan kadang tergoda untuk ‘ah ngapain sih repot-repot, gini aja saya bisa hidup’. Tapi kalau mau level up lebih tinggi lagi dan mencapai aktualisasi diri yang maksimal dalam hidup (kenapa tiba-tiba kontemplatif) it’s really a must to struggle!

Advertisements

5 thoughts on “LEVEL UP! : Takut Programming

  1. Kalau kerjaan GD sudah pakai Unity, mau nggak mau harus belajar coding juga sepertinya 🙂 . Karena Unity kan code base gitu, Js atau C#. Geli-geli menantang kalau belajar coding, Lei :mrgreen: .

    Like

  2. Nulisnya Lei’s style banget dah, joosss. Jangan menyerah hanya karna kata2 “masak gitu aja gak bisa” hahahaha.

    Quote “AFTER WORK, IS WHAT DETERMINES YOUR FUTURE! SPEND ONE HOUR PER DAY DOING THESE 5 THINGS AND YOUR LIFE WILL CHANGE FOREVER!” Saatnya pensi dota

    Liked by 1 person

    • HAHAHA WUOPO Lei’s style KWKWKW. JIR BANGSAT GA USAH NGINGETIN SI MANUSIA ITU LAH :”)))))))))))))))))) #kerainghard

      Iyaaaa, beneran deh itu aku rekomen untuk pensi sih atau atleast jangan musti tiap hari banget (dijadwal). Believe me, dulu-dulu sering banget abis ngantor doing nothing, terus lama2 menyesal kenapa daridulu ga belajar apa gitu kek dikit-dikit :’)). Semangat yumm utk bareng2 jadi manusia yang efektif !

      Like

  3. All hail Leiii!
    Tapi kalo belajar game ‘design’ itu idealnya belajar matematika Lei buat balancing.. karena km akan men-‘design’ gameplay dan user’s experience.. Kalo fokus di visual, itu jadi game artist.. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s