DESIGN JOURNAL : Virtual Stellarity (VR)

Feature Graphic virtual stelarity

Download VIRTUAL STELLARITY from GooglePlay

Devblog game pertama di Arsanesia : VIRTUAL STELLARITY (VR). Project STELLARITY ini dibuat sebagai karya yang dilombakan untuk challengenya Dicoding: Lenovo Virtual Reality Challenge. Waktu pengerjaannya juga lumayan mepet, kalau tidak salah cuma 11 hari doang sebelum deadline. Niat pertamanya memang hanya sekedar coba-coba siapatahu beruntung dan lumayan buat refreshing suasana baru karena sehari-hari kita utamanya mengerjakan project IP Arsa Kids. Di posting ini saya akan sharing proses berpikir saya sebagai starting game designer dalam mendesain STELLARITY.

SS-Stellarity

Screenshot Virtual Stellarity

Brainstorming Phase

Selagi mencari-cari referensi game VR yang sudah release, 3D Game adalah format visual yang paling sering digunakan karena memang 3D adalah sudut pandang yang paling representatif untuk mengoptimalkan sensasi virtual reality.

But we have problem here: Arsanesia belum punya dedicated 3D Artist & pengalaman membuat game 3D

#DYAR #DYAR #DYARMODARO. Hahaha. Dalam waktu yang sangat singkat dan kalau harus belajar 3D lebih dahulu, sepertinya sangat makan waktu dan nanti kita malah repot kalau banyak bug. Meskipun project ini statusnya untuk ikut lomba, tapi kalau harus mengorbankan kualitas yang tidak well-polished rasanya greget gimana gitu. Ayo putar otak, putar otak lagi!

Sampai akhirnya terpikir, kira-kira bisa tidak ya kita ulik perspektif 2D yang tetap bisa memberi ilusi ‘virtual reality’ ? Maka kita mencoba mengadaptasi sudut pandang spherical:

spherical

Sudut pandang spherical ini mengambil posisi dimana player statis di tengah, tapi dia tetap punya visi pandang 360°.   Kalau di 3D, player biasanya pergerakannya diarahkan sambil bisa liat ke semua sudut, nah kalau ‘VR 2D’ kita ini ceritanya player yang diam saja (nyebelin ga sih gini doang, haha). OK, kami semua sepakat dengan ide itu, dan langsung kick off pengerjaan setelah mendapat konfirmasi dari programmer kalau mekanik ini secara coding memungkinkan (GD harus sering komunikasi sama programmer,berusaha intens konfirmasi terutama untuk masalah teknis kayak gini)

Game Design Process 

1. RESEARCH MECHANIC

Mengembangkan mekanik game gak berarti harus idealis berbeda banget atau super-duper original. Bisa juga kita mencontoh dan mengadaptasi mekanik game lain (dan ini normal dipraktekkan, asal dimodifikasi & dikembangkan). Untuk STELLARITY, saya terinspirasi dari game InMind VR, secara mekanik dia kayak shooter, dan secara narasi ceritanya kita menembak-nembak syaraf otak yang bermasalah biar nggak sakit kepala (ini edugame soal otak, cekidot aja link googleplaynya).

inmind-vr-trailer-mp4

InMind VR, educational shooter VR game  (Credit: media.moddb.com)

2. DEFINE THE MECHANIC, FIRST!

Mantapin dulu rancangan mekanik game karena disini core utama permainannya. Kenapa harus mantapin ini dulu? Kalau core mechanic belum mantap, pengembangan game bakal gampang nggak fokus dan keburu nafsu menambah segala fitur. Nanti gamenya gak jadi-jadi karena arahnya gak jelas kan menghamburkan uang cost produksi, dan itu berbahaya banget buat perusahaan. Finalisasi core mechanic juga membantu programmer, jadi mereka bisa bikin prototypenya dulu dari awal, sehingga tim punya banyak waktu untuk menyempurnakan.

GDD-Stellarity1

Contoh step-by-step core mechanic STELLARITY

Contoh di atas itu cara saya men-define core mechanic yang saya mau. Saya lebih nyaman menjelaskannya dengan gambar karena background saya DKV yang terbiasa menjelaskan sesuatu dengan bahasa visual. Kalau tidak bisa gambar, bisa coba-coba pakai screenshot game lain atau sekedar oret-oretan diagram sederhana. Suit yourself! Tetapi dalam pendokumentasian GDD, usahakan banyak menjelaskan dengan visual karena lebih mudah dicerna apalagi kalau ingin menjelaskan tentang konsep yang rumit untuk menguragi salah paham. GDD harus bisa mudah dimengerti oleh tim!

Singkat cerita untuk core mechanic STELLARITY, ceritanya player diajak menerawang langit untuk menemukan rasi bintang. Cara menemukannya adalah seperti game connecting dots jaman TK, menghubungkan titik-titik bintang dengan cara hold-to-aim (tahan pandangan biar bintangnya tereksekusi). Kalau titik-titik bintangnya selesai dihubungkan, player bakal muncul ilustrasi rasinya yang ciamik.

3. DEFINING BEHAVIOR

Setelah mantap dengan core mechanic, saya berlanjut ke defining behavior. Semacam kondisi what-if nya. Kondisi what-if ini sebenarnya termasuk core mechanic juga. Contoh paling gampang, di banyak game pasti ada kondisi kalau menang karena player ngapain, dan kalau player kalah karena melakukan kesalahan apa. Untuk behavior di STELLARITY, saya membayangkan berbagai kemungkinan interaksi player saat mereka sedang menghubungkan titik-titik bintang:

GDD-Stellarity2

Membayangkan berbagai kemungkinan interaksi player saat sedang menghubungkan titik bintang

Kenapa saya harus membayangkan interaksi? Tujuannya sih biar dalam proses menghubungkan bintang, player nggak bingung cara menghubungkannya gimana. Saya jabarkan contoh case-case behavior yang saya limitasi di STELLARITY:

  • Dimulai dari bintang yang segilima, karena rasinya banyak dan terdiri dari kumpulan banyak bintang, biar nggak bikin player bingung, saya mendefinikan kalau player harus mulai aim dari bintang yang segilima dulu untuk 1 rasi. Bintang segilima menunjukkan starting point-nya
  • Player hanya bisa menghubungkan bintang yang bercabang dekat, setelah aim bintang segilima, player bakal dikasihtau clue rasinya (lihat screenshot core mechanic). Berarti player sudah membayangkan hubungan garisnya. Maka saya limitasi, aim ke bintang berikutnya harus titik bintang ‘tetangganya’ (yang bercabang langsung) biar form rasinya terjaga. Kalau tidak dilimitasi, nanti garisnya jadi cakadut terus player bingung.
  • Bintang yang aimnya benar akan glowing & keluar garis, feedback visual ini penting untuk didefine, agar player tahu kalau langkah-langkah yang dia lakukan itu benar jadi flow gameplaynya konsisten

Jadi begitulah sekilas contoh-contoh define behavior. Proses define behavior tentunya butuh banget prototype karena kadang ada hal yang baru kerasa kalau kita sudah bermain langsung yang sebelumnya nggak kebayang.

4. DESIGN UI

Saya sendiri kadang bingung, mungkin kalau di perusahaan game yang sudah besar, sudah ada dedicated UI Designer sendiri. Tapi dalam kasus ini karena personil sedikit dan beban kerja artist sudah banyak, jadinya saya juga turun tangan merancang UI-nya. Tapi kalau dirasa-rasa, pengetahuan soal UI/UX penting juga untuk game designer. Karena bagaimanapun core mechanic game bakal gampang dipahami kalau penyampaian UInya ciamik. Dan UI adalah jembatan player untuk berinteraksi dengan game kita.

GDD-Stellarity3

Draft rancangan UI

5. NEXT STEP JOBDESK

Nah setelah konsep-konsep krusial sudah mantap, enaknya bisa dilanjut menambahkan macam-macam fitur. Berhubung STELLARITY skala gamenya kecil & sederhana, jadi tidak banyak penambahan. Yang selanjutnya saya kerjakan adalah:

  • Menambahkan fitur sederhana (di STELLARITY saya tambahkan pop-up trivia)
  • Mendaftar konten (List lengkap rasi bintang yang mau dimasukkan)
  • Buat konten narasi (text & dialog yang ada di game, ceritanya rangkap jadi Content Writer)
  • Bantuin layout titik-titik bintang di Unity (bisa dibilang ini aspek ‘level design’-nya walaupun formatnya bukan level stage gitu)

Kesimpulannya, jobdesk saya di project STELLARITY ini fleksibel, sehabis merancang core mechanic, saya juga merancang tetek-bengek kontennya dan text. Sekali lagi, namanya studio kecil harus siap rangkap-rangkap. Terlebih, game designer harus berusaha mencoba apapun untuk mempermudah jobdesk artist & programmer, karena mereka yang benar-benar mewujudkan game menjadi produk final. Penjelasan GDD & konten game saya buat sedetail dan selengkap mungkin biar mereka nggak usah mikir hal lain dan bisa fokus menggarap coding & asset-asset gambarnya.

 

Happy Ending: We Win!

tech-it2

Credit: diambil dari blognya Mas Adam he..he… Mas Adamnya yang sebelah mbak-mbak

Wohoo!! Ternyata akhir cerita dari project kebut ini membahagiakan! Kami memenangkan Challenge Lenovo Dicoding ini bareng 2 studio lain Agate & Solite Studio, padahal awalnya tidak menyangka dan merasa kurang yakin aja karena mepet banget waktunya.

Tapi menang bukan berarti bisa bersantai-santai, masih banyak aspek-aspek game design yang harus dipelajari dan dirasakan sendiri. Akhir kata, semoga posting saya kali ini bisa sharing berbagi pengalaman game design buat teman-teman yang memulai dan masih bingung, kok game designer itu abstrak banget ngapain aja sih hidupnya, kwkwkwkw.

Motivasi berbagi step-by-step proses game design ini saya tulis karena saya sendiri juga masih bingung tahapan kerja game designer itu standardnya kayak gimana ya? Setidaknya untuk memulai di Indonesia, kalau baca-baca blog luar itu sudah teruji dan levelnya sudah tinggi. Dan kemana-mana kalau saya ikut acara komunitas gamedev, programming & art sudah sangat jelas, sementara game design ya masih jarang-jarang, game designer dedicated aja masih jarang ketemu (atau emang saya yang kurang gaul *gulp*).  Kalau ada teman-teman gamedev berpengalaman yang baca posting saya ini, boleh dong bagi-bagi pengalamannya juga kaka :3.

Lastly, keep improving, learn many things and BE A HELPFUL GAME DESIGNER!

Advertisements

3 thoughts on “DESIGN JOURNAL : Virtual Stellarity (VR)

  1. Last but not least but the best!
    This is what I was about to ask you on that chat the other time.. Haha
    Perfectly written, next time in English please biar ke pasar global.. Nyahahahahah

    Like

    • Oh ini toh wkkwkwkw. ntar deh pas chat :P. Soalnya ini bukan full development sih, jatuhnya ngejar lomba :”’). Wkakaka sengaja Indonesiah emang targetnya spesifik gamedev Indonesia yang referensi (apalagi untuk game design) secara lokal masih dikit bangettttttt *padahal mah sering conflict antara pingin Eng atau fokus indonesia T_T wkkw

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s