GOING INDIE: JOINING ARSANESIA

Setelah kelulusan dari Gameloft, petualangan pergamedevan berlanjut di studio startup Arsanesia. Studio game yang berdomisili di Bandung ini resmi berdiri sejak 2 April 2011. Dan sekarang sedang fokus di lini produk edugame untuk anak-anak: Arsa Kids . Personil Arsanesia baru 4 orang (5 dengan saya) masing-masing artist, programmer, animator, CEO dan game designer. Waktu menulis blog ini, saya sudah resmi bergabung selama 2 bulan (masih belum ngapa-ngapain brurz)

10408747_518488214985423_3683688458873592458_n

Arsanesia’s Edugame project: Arsa Kids

WHY GOING INDIE?

Pertimbangan untuk tetap lanjut berkarir di industri game dan belajar lagi dari bawah bukan merupakan keputusan yang mudah saat itu. Terlebih setelah (pardon for personal background here) ayahanda tercinta saya pulang kampung ke surga. Duh gak maksud baperan gaes haha tapi memang peristiwa itu menjadi poin pertimbangan besar soal masa depan sebelum benar-benar memutuskan untuk (at least untuk tahun-tahun ini) tetap mencoba merintis karir di industri game yang sebenarnya belum stabil di Indonesia ini. Saya yakin kegalauan pilihan hidup untuk ke industri game pasti sering dialami teman-teman gamedev, but at the end of the day beberapa dari kalian toh tetap memilih untuk bertahan.

Lalu mengapa going Indie?

Pertimbangan dasar kenapa ingin terjun ke ranah indie (studio game kecil) lebih kepada keinginan untuk menyerap banyak pengalaman dan ilmu. Pengalaman bekerja sebelumnya di Gameloft sebagai perusahaan yang sudah besar memang banyak, namun rasanya belum cukup bagi saya. Masih banyak cuilan-cuilan pengetahuan yang susah didapatkan di sana, karena di perusahaan besar segalanya sudah tersedia tinggal mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan.

Apa yang diharapkan belajar dari studio kecil?

Sebelum lanjut, opini ini sangat bersifat subjektif dan personal. Saya hanya merasa banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari secara otodidak dan akan banyak menemukan kondisi dimana memang ‘harus terpaksa belajar’ di studio kecil. Dengan jumlah personil yang sedikit otomatis akan banyak tugas yang harus rangkap dan mencari sendiri solusinya. Misalnya, mantengin data gameanalytics sendiri, menentukan model monetisasi, mungkin memikirkan strategi marketing gimana caranya biar produk game kita eksis, dan hal-hal mandiri lainnya. Pokoknya otak keperes banget lah untuk terus belajar dan maju! (Amin). Dan yang paling jelas, saya ingin menjadi game designer seutuhnya *dramatic tears.

JOINING ARSANESIA

Beberapa bulan sebelum memutuskan tanggal kelulusan, kebetulan saya sempat iseng-iseng menyapa mas Adam Ardisasmita (link blog personalnya, banyak tulisan kaya nutrisi & inspiratif), CEO Arsanesia. Sebenarnya saya sudah kenal doi dari dulu, 1 almamater (doi ITB IF ’08) dan waktu dulu masih jadi mahasiswa ingusan sempat ada wacana untuk kerja bareng doi (yang baru kesampaian sekarang ini). Alasan lainnya adalah si Mas Adam satu ini memang visioner (tanpa bermaksud menyanjung-nyanjung ya Boss :P). Doi sempat ngompori saya kalau memang passion di game, mau gak kamu jadi bagian gerilyawan agar ekosistem industri game di Indonesia jadi lebih baik. Memang terdengar sangat idealis, tapi selagi belum gendong bayi atau mikirin KPR dan masih umur segini, why not mencoba untuk sama-sama jadi pejuang? Dan komporan kata-kata itu yang semakin memantapkan going indie.

Awalnya cuma tanya-tanya masih bukaan gak ya, mau join sebagai game designer. Voilah! Kebetulan sekali di Arsa Kids belum ada dedicated game designer, jadi ya mungkin fit in the right time. Yah saya akui ini judulnya emang jalur orang dalem XOXO. Karena selama ini, Adam yang menanggung macam-macam, dari jadi CEO, game design, marketing, business decision hingga external networking.

 

ARSA KIDS : Adapting my Mindset 

12719110_553668014800776_6448761216636829079_o

Jobdesk saya di Arsanesia ini adalah membuat banyak model game design untuk lini produk Arsa Kids. Target marketnya sih anak-anak dan orangtua-orangtua muda yang suka gadgetan dan juga suka manjain anak dengan gadget (itung-itung nyantai pas ngurus anak, anaknya main). Sekilas saya mainkan game-game yang sudah rilis lebih dulu, mekanik game desainnya terkesan sangat sederhana dan pendek. Berbeda dengan interest saya yang lebih ke game-game rumit macam RPG atau Casual Mobile Game, mendesain game untuk anak kecil benar-benar asing buat saya.

Tantangan Game Design

Meskipun terlihat sepele, nggak juga berohh! Selama 2 bulan di Arsanesia, saya sudah mencoba merancang 3 GDD (masih sampai tahap GDD belum prototyping). Dan shifting mindset untuk decision making lumayan tricky. Dijabarkan satu-satu ya menurut sepengalaman :

1. Too Easy or Too Complicated

Ini tantangan yang paling kerasa pas awal-awal mencoba mendesain. Kalau game pada umumnya, mungkin akan langsung terbayang berbagai macam parameter-parameter atau fitur fitur oke yang pingin diimplementasi. Tapi tidak untuk kids game! Kadang saya merasa game concept yang dibuat terlalu gampang, tapi begitu ditambahkan sedikit takut anak-anak gagal paham.

2. Details

Detailing, berlaku untuk jenis game apapun tidak khusus kids game saja. Meskipun kids game rata-rata sederhana, tetap saja dalam proses pengerjaannnya aspek detail harus terus diasah. Misalnya nih, antar flow screen. Seringkali mendesain flow screen game kebawa linear, padahal kita lupa player punya intuisi untuk menuju suatu screen lewat screen lain yang secara tema berkaitan. Jadi harus dibikin cabang-cabang shortcutnya juga.

gameflow

Contoh gameflow untuk skala game kecil. Aslinya ini hasil final dari banyak coretan flow

Soal detailing memang menarik untuk dibahas. Nanti akan saya coba bedah lagi di post-post berikutnya khusus untuk game design karena detailing ini sangat penting.

3. Belajar tentang Anak-anak 

Ini yang agak canggung, karena saya gak ada interest ke dunia anak-anak sampai saat ini. Tapi demi profesionalitas, teteup harus research. Sekarang mulai sedikit-sedikit baca artikel tentang anak, kadang-kadang suka ada ada yang seru. Di poin ini saya sadar & belajar kalau invest waktu untuk research penting untuk game design, selama ini research sering underrated di tengah proses pembuatan game.

END NOTE

Saya sangat menikmati 2 bulan di Arsanesia ini, baru saja 2 bulan sudah banyak kondisi yang memungkinkan untuk belajar menyerap banyak hal baru. Selanjutnya adalah melakukan jobdesk saya sebagai game designer sebaik-baiknya dan berusaha menjadi kolega yang HELPFUL (ini nasihat joss dari mentor/roomate/mantan producer saya di Gameloft, Theresia Agustina *this tribute is for you!)  dan bareng-bareng sama programmer & artist membuat produk game yang uwow XD!

13072901_10154184434352700_2249402690158247763_o

Ini full-team Arsanesia. Semoga bareng-bareng lancar terus dan bikin banyak game yang UWOW (Credit photo: Adam)

Advertisements

2 thoughts on “GOING INDIE: JOINING ARSANESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s