Days as Gameloft Porting Designer

2 Tahun merantau di Tanah Keraton

2 Kantor Gameloft

Java & Windows

8 Jam Perjalanan BDG-JOG

Genap sudah 2 bulan sejak saya resign dari Gameloft Yogyakarta (saat menulis ini, Mei 2016). Gameloft Yogyakarta, perusahaan game internasional asal Perancis yang berdiri di Indonesia sejak 2010, telah menjadi icon besar di industri game tanah air. Kehadiran Gameloft di Yogyakarta khususnya, mendukung tingginya antusiasme iklim atmosfer IT & Industri Kreatif di kota gudeg tersebut. Siapa yang tidak kenal dengan game-game mobilenya yang bertabur franchise-franchise dari berbagai macam movie, juga game-game javanya yang sempat menjadi primadona karena dulu menjadi pemain dominan industri game feature phone (jaman hp jadul). Dengan portfolio mentereng tersebut, tidak heran banyak talent-talent IT setempat berbondong-bondong ingin menjadi bagian dari Gameloft. Saya termasuk salah satunya

First Baby Step: Java Massport Studio (JO2)

Mengintip Ruang Kerja di Studio Gameloft Indonesia

Tampilan kantor Gameloft JO2 di Klitikan (Credit: Cornel, sesama GD comrades! Fotonya diambil dari Kaskus hehe)

Massport Java? Apaan tuh?

Haha, yap di studio ini kita menangani porting (kedua studio Gameloft di Yogyakarta semuanya porting). Intinya Gameloft Yogyakarta memang belum berada di tahap ‘creation’ atau membuat game sendiri dari 0. Kita masih mengadaptasi game creation dari studio lain (Gameloft punya banyak cabang di seluruh dunia) untuk di-porting ke berbagai platform HP.

Untuk yang Java tentunya kita porting ke berbagai macam HP jadul. Jangan dianggap enteng dulu, HP jadul itu varian dan speknya banyak bingits!  Biasanya satu tim terdiri dari sekitar 15-25 orang:

  • 1 Produser
  • 4-5 Game Designer
  • 6 Artist
  • 8-12 Programmer

Kenapa timnya banyak banget? Biasanya 1 tim itu dibagi menjadi 3 sub-team untuk menangani kategori spek HP feature phone yang berbeda (high, mid, low) saking varian HP feature phone itu terlalu banyak. Karena limitasi model HPnya yang sangat minim, butuh dedicated team untuk mengoptimisasi data dan asset untuk masing-masing spek.

Java Porting Game Designer?

Tugas saya sebagai Game Designer? Well, sebenarnya peran Game Designer di sini lebih sebagai management/editor data dan making sure programmer bisa segera eksekusi optimisasi. Sehari-hari, biasanya kita decision making untuk optimisasi asset, yang diawali dengan membuat cutting plan. Setelah kita mendapat project, game designer mempelajari dulu gamenya lalu membuat cutting plan itu (proposal optimisasi asset). Proposal optimisasi harus mendapat approval dari HQ (semacam project management pusat) makanya proses cutting plan ini sangat penting. Isi cutting plan biasanya mendaftar asset-asset mana yang bisa dihilangkan, tampilan UInya bakal kayak gimana kalau di HP tertentu (sekali lagi, tampilan masing-masing HP berbeda-beda) terus fitur mana yang harus dihilangkan. Pokoknya di Java kita diajarin optimisasi besar-besaran deh.

Setelah Cutting Plan?

Setelah proses proposal selesai, time to do the shit for real! Hahaha. In short, yang dilakukan game designer adalah:

  • Re-layout untuk masing-masing resolusi kategori HP
  • Assign artist untuk ‘cleaning’ gambar asset sesuai ukuran kategori HP (karena java jadi formatnya banyak pixel)
  • Kerjasama decision making bareng programmer untuk problem solving optimisasi
  • Re-make feature bila diperlukan (kalau fitur game asli gak bisa dikecilin lagi, otomatis bikin desain fitur sendiri, sedikit ngegame design)

Yep, most of all, peran GD disini lebih ke aspek managing, pengetahuan soal UI & sedikit problem solving. Mengapa problem solving? Karena kita gak bisa menyamakan cara-cara optimisasi untuk masing-masing game, tiap game bisa saja dibuat dengan engine / struktur yang berbeda. Menjadi GD juga melatih willingness to communicate, karena GD itu sentral data, semua perubahan yang dilakukan idealnya sepengetahuan GD, dan GD juga harus mengkondisikan decision making optimisasinya agar gampang dimengerti programmer & artist. ❤❤

JO2-game

Game garapan di JO2: Puzzle Pets (kayak Candy Crush) & CARS:Hotshot Racing (arcade)

Selama setahun saya di JO2, rasanya lama-lama bosan juga. Saya emang bosenan sih orangnya khe-khe-khe. Lalu tiba-tiba boss saya Mas Oscar (JO2 Lead Game Designer) tetiba menawarkan kesempatan untuk pindah ke studio satunya: Gameloft HD! Ya tanpa pikir panjang langsung saya meng-iyakan, ya know life’s too short to just try one thing~ (duh penyakit kutu loncat). Dilanjut di sesi berikutnya…

 

Second Step: HD Porting Studio (JOG)

Diambil dari Website Pacific Building langsung. Gameloft di Lt. 1 & Lt. 5

Lanjutlah saya setahun kemudian di Studio Gameloft yang khusus menangani porting HD (bukan game feature phone lagi), lokasinya di timur kota Jogja dekat bandara Jl. Laksda Adisucipto. Ada 2 divisi disini, Android & Windows. Kebetulan karena Windows lagi emerging-emergingnya, saya dimasukkan dalam tim porting Windows. Porting sendiri biasanya mengadaptasi dari platform iOS. Komposisi tim disini lebih ramping, karena rata-rata game mobile modern sudah auto-resize dan banyak fitur-fitur yang sudah otomatis tersetting:

  • 1 Produser
  • 1 Game Designer
  • 1 Artist
  • 8 Programmer

Bisa dibilang, workload HD lebih sedikit daripada Java, ya karena banyak fitur yang otomatis inherited. Tapi di HD banyak banget rules-rules ‘birokrasi’nya, salah satunya rules antar Platform. Misalnya di Windows tidak boleh ada effect bounce-back di UI (misalnya kita swipe suatu button terus button itu mental) tapi game sumber portingan kita yang dari iOS implemen fitur itu. Contoh lagi porting untuk Android, harus menghilangkan Game Centernya Apple dengan GooglePlay.

Terus kenapa GDnya cuma sendirian?

Yash! Karena beban workload yang berkurang tadi, otomatis GD per team cuma butuh satu untuk melayani semuanya (duh berasa lacur). Saya berasa jones banget disini, kalau ada masalah apa-apa langsung lapornya ke Producer, DYAR BINGITS gak wkwkkwkw.

So, tugas GD HD apa saja ya?

  • Masih re-layout antar orientation (portrait-landscape) dengan Flash
  • Assign artist untuk image khusus per-Platform
  • Totally know your game, untuk mempermudah programmer
  • Maintain komunikasi dengan tim creation (iOS) & Android

Secara garis besar, jobdesk GD HD dengan Java tidak jauh beda, dia tetap berperan sebagai ‘pusat informasi’ tim tentang gamenya. Hanya bagian re-layout yang berkurang, karena ga menghandle macem-macem resolusi, paling hanya penyesuaian landscape & portrait. Penguasaan game disini sangat penting, karena jobdesk Programmer disini berat jadi kalau ditanya apa-apa sama Programmer harus cepet jawab biar kakang-kakang itu tidak lelah.

Perbedaan dari Porting HD?

Yang paling terasa perbedaannya disini adalah dari segi aspek managing dan komunikasinya. Seringkali GD harus bantuin Produser untuk handle aspek-aspek non-teknis. Contohnya, saya ikutan ngobrol via email ke berbagai departemen untuk urusan ‘birokrasi rules’ game seperti minta rating, proposal aset khusus Windows, atau maintain komunikasi intens dengan iOS kalau ada update struktur game. Overall, saya merasa banyak belajar managing people in team & melihat sudut pandang dari berbagai departemen secara utuh.

JOG-game

Game garapan di JOG: CARS: Fast as Lightning (tycoon-arcade) & Disney Magic Kingdom (tycoon)

Until the day I should reach another step…

Sampai tiba dimana saatnya saya dengan blak-blakan merasa: Aku Bosan! HAHAHAHA. Sudah saatnya bagi saya pribadi untuk keluar dari comfort zone dan benar-benar mulai lagi dari 0 meraba-raba proses membuat game memberdayakan daya kreativitas sendiri. Tapi mind you, perspektif saya dalam hal ini memang cenderung ke sisi yang mengutamakan idealisme (yang belum tentu jalan yang saya pilih cocok dan berlaku untuk semua orang). Selagi masih muda dan belum mau nikah (sementara temen-temen cewek gw sendiri sudah pada hamil…*ups curhat) saya ingin sekali mencoba belajar banyak hal baru dan mengoptimalisasikan keinginan untuk menjadi GD seutuhnya dari bawah. Ditambah dengan fakta saya pribadi harus menemani ibu (karena *insert personal story here* Bapak saya sudah nggak ada) jadi harus balik kampung ke Bandung, sampailah saya pada keputusan untuk ‘lulus’ dari Gameloft :).

Saying Goodbye!

12799244_1117389531615386_6183037766695988001_n

Duh fotonya kuleheu bingits. Ini malem-malem farewell disuruh foto di logo (Ya emang ga kobe aja sih ngaku aje)

Tak disangka post blog ini jadi panjang haha. Intinya saya sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari Gameloft Yogyakarta, secara garis besar saya banyak belajar mengenai flow industri game dalam skala makro dan pentingnya will of collaboration dalam sebuah tim yang memiliki berbagai macam perbedaan. Tentu saja feedback positif dan negatif selama bekerja disini ada, enaknya masuk ke obrolan-obrolan renyah akrab saja ya hehe !

Last of the Last But the Best (by: Fristy Hatake-fellow typo programmer comrade),

Terimakasih untuk orang-orang yang sudah menemani dan membimbing saya di Gameloft Yogyakarta. Sukses selalu untuk kalian semua!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

2 thoughts on “Days as Gameloft Porting Designer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s